suluh.bamban@gmail.com

Jan 22, 2014

Panen Cabai Merah

Panen pertama dilakukan pada umur 60-75 hari setelah tanam, dengan interval ±3-7 hari. Buah yang dijual segar dipanen matang, sedangkan jika untuk dikirim dengan jarak yang jauh, buah dipanen matang hijau. Buah yang akan dikeringkan dipanen setelah matang penuh.

Kemasan untuk cabai merah yang dikirim ke tempat yang jaraknya jauh berupa karung jala dengan kapasitas + 50 kg atau kotak-kotak karton yang diberi lubang angin yang cukup. Tempat penyimpanan harus kering, sejuk, dan mempunyai sirkulasi udara yang cukup baik. Karakteristik kualitas cabai merah yang dikehendaki oleh konsumen rumah tangga maupun lembaga adalah:
- warna buah merata dan tua,
- kekerasan buah sedang keras,
- bentuk buah memanjang(±10 cm),
- diameter buah sedang(±1,5 cm), dan
- permukaan buah halus dan mengkilap. 
Sumber : Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Budidaya Tanaman Cabai Merah, 2005
Komentar

Pemberdayaan Petani Melalui Pelaksanaan SLPTT



Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) merupakan  suatu tempat pendidikan non formal bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam mengenali potensi, menyusun rencana usahatani, mengatasi permasalahan, mengambil keputusan dan menerapkan teknologi yang sesuai dengan kondisi sumberdaya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga usahataninya menjadi efisien, berproduktivitas tinggi dan berkelanjutan.
Komentar

Jan 17, 2014

Cyber Extension Di Balai Penyuluhan Angkinang




Pada hari kamis, 16 januari 2014 Balai Penyuluhan Angkinang Memperoleh bantuan perlengkapan Cyber extension dari Badan Penyuluhan dan Ketahahan Pangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Penyerahan bantuan dilaksanakan oleh Bapak Suryani,SP selaku KJFmewakili  Bapeluh. Paket bantuan Berupa Modem, 1 unit Laptop merk Acer type , 1buah Printer, dan 1 buah LCD Proyektor.

1 Komentar

Jan 7, 2014

Usaha Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Blas pada Tanaman Padi



    Salam Pertanian! kali ini  saya akan berbagi informasi tentang Usaha Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Blas Pada Tanaman Padi. Secara garis besar materi penyuluhan ini berasal dari badan litbang pertanian. Serangan Penyakit Blas cukup menjadi perhatian di lingkup balai penyuluhan angkinang karena  pada MH 2012/2013 lalu, indikasi serangan penyakit ini di persawahan petani cukup banyak.

     Penyakit blas/ bercak belah ketupat pada tanaman padi disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae. Jamur ini berkembangbiak cepat pada tanaman padi yang berjarak tanam rapat sehingga mempunyai kelembaban yang tinggi. Kecepatan pertumbuhan jamur tersebut juga akan semakin tinggi jika pemupukan tanaman padi menggunakan urea secara berlebihan.

    Gejala penyakit blas atau bercak belah ketupat adalah pada daun dan pelepah terdapat bercak-bercak berbentuk belah ketupat. Ukuran bercak sebesar 1-1,5 cm X 0,3-0,5 cm. Bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dengan pinggir berwarna coklat. Ukuran dan warna bercak dapat bervariasi sesuai dengan keadaan lingkungan, kerentanan tanaman dan umur bercak. Jika kondisi lingkungan lembab dan yang terserang adalah tanaman yang rentan maka bercak-bercak tersebut dapat menyatu dan menyebabkan rusaknya sebagian besar daun.

    Pyricularia oryzae juga dapat menyebabkan tangkai malai membusuk dan patah, penyakit ini biasa kita sebut busuk leher. Jika infeksi terjadi sebelum pengisian bulir dapat menyebabkan kehampaan bulir padi. Tidak hanya daun dan malai batang juga dapat terinfeksi sehingga batang padi membusuk dan rebah.

  1. Usaha -Usaha Pencegahan dan Pengendalian meliputi;

  2.  Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) pada tanaman padi, salah satu tujuan PTT adalah mampu menekan penurunan hasil akibat OPT ( Organisasi Penganggu Tumbuhan), antara lain dengan :
  3.  a). Penggunaan vaietas tahan & pembenaman jerami.
     Penggunaan varietas baru dan tahan terhadap blas sangat dajurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas antara lain : 1) Inpari 13; 2) Luk ulo; 3) Silungongo; 4) Batang Piaman; 5) Inpago dan lain-lain. Proses dekomposisasi jerami selain dapat berfungsi sebagai pupuk organik juga dapat membunuh miselia blas dan tidak berpotensi untuk berkembang.

     b) Pemupukan berimbang.
     Penggunaan pupuk sesuai anjuran terutama pada daerah-daerah endemi penyakit blas terutama dengan penggunaan Nitrogen yang tidak berlebihan dan dengan penggunaan kalium dan phosfat, dianjurkan agar dapat mengurangi infeksi blas di lapangan. Penggunaan kalium mempertebal lapisan epidermis pada daun sehingga penetrasi spora akan terhambat dan tidak akan berkembang di lapang.

     c) Waktu tanam yang tepat,
    Pengaturan tanam pada saat yang bertepatan banyak embun perlu dihindari agar pertanaman terhindar dari serangan penyakit blas yang berat, keadaan ini memerlukan data iklim spesifik dari wilayah-wilayah pertanamanpadi spesifik lokasi; 2). Penggunaan Fungisida Kimia & Nabati; a) Fungisida Kimia dianjurkan bagi yang endemi terhadap blas dengan ketentuan menggunakan Pengendalian Hama secara terpadu dan tepat guna. Ada beberapa fungisida kimia yang bekerja secara sistematik di pasaran misalnya: mikocide 70, Trycyclazole, Amistartop, Score, Pyoguilon. ;

  4.  Fungisida Nabati dapat berupa produk langsung jadi yang dijual dipasaran misalnya Inokulan/starter sp dan Gliocldium sp yang digunakan sebagai tindakan preventif pada masa vegetatif tanaman padi.
  5. Fungisida nabati juga dapat dibuat secara sederhana dari bahan-bahan yang sederhana.
    Keberhasilan pengendalian penyakit blas dipengaruhi oleh kemampuan pengaturan lingkungan, terutama iklim mikro tanaman, keseimbangan penyerapan unsur hara dan tingkat kesuburan tanah.

    Tingkat populasi tanaman mempunyai arti penting yang berhubungan dengan produksi dan perkembangan penyakit blas. Jarak tanam rapat dan jumlah benih yang banyak menciptakan iklim mikro yang optimum untuk perkembangan penyakit blas.

    Pemupukan; Pengaruh pemupukan terhadap penyakit blas tergantung pada kesuburan tanah, jenis dan takaran pupuk, serta varietas yang ditanam. Varietas yang rentan dengan peningkatan takaran pupuk Nitrogen menyebabkan tanaman mudah terserang blas, karena menurunkan kadar Kalium dalam jaringan tanaman. Untuk tanah PMK dianjurkan menggunakan pupuk 60 - 90 kg N, 90 kg P2O5, 60 kg KCl per hektar. Pemberian Nitrogen lebih rendah dapat dilakukan terhadap varietas kurang tahan blas.
    Untuk varietas Lokal, pemupukan optimal dianjurkan 45 kg N, 45 kg P2O5, 30 kg KCl per hektar. Pemberian abu sekam yang mengandung Silikat 300 kg/ha dapat menurunkan kerusakan blas dari 90 % menjadi 48 %.

  6. Penggunaan Fungisida; Hampir 30 - 40 % penyakit blas pada padi ditularkan melalui benih, sehingga pada stadium awal vegetative tanaman padi dapat terserang blas. Oleh karena itu, perlakuan benih (seed treatment) dengan fungisida sistemik seperti Pyroquilone 50 WP sebanayak 8 g/kg benih sangat diperlukan. Untuk blas leher diperlukan penyemprotan dengan fungisida Tricyclazole pada saat bunting dan berbunga.


  7. Sumber:
    Hama dan Penyakit pada tanaman Padi. Badan Litbang Pertanian. 2010

Komentar

Dec 29, 2013

Pengendalian OPT Ramah Lingkungan dengan Agens Hayati


Petani sebagai pelaku utama kegiatan pertanian memang sering menggunakan pesti­sida sintetis secwara berlebihan, terutama mengendalikan hama dan penyakit yang sulit dikendalikan. Misalnya penyakit karena virus dan patogen tular tanah (soil borne pathogens). Bahkan petani kerap menjadi­kan pestisida sintetis sebagai andalan pengendalian hama dan penyakit.

Pada­hal justru dikhawatirkan menim­bulkan dampak buruk bagi kesehatan. Direktur Perlindungan Horti­kul­tura Direktorat Jenderal Hor­ti­kultura, Kementerian Perta­ni­an, Soesilo mengatakan, ketergan­tungan pengendalian OPT deng­an menggunakan pestisida sebe­narnya dapat diatasi. Caranya, de­ng­an mengaplikasikan metode pengendalian yang ramah ling­kung­an dengan menggunakan agen hayati. Pengembangan pestisida nabati yang banyak dilakukan petani, umumnya menggunakan bahan tanaman yang mudah didapat di sekitar lokasi usahatani. Sebut saja, ekstrak daun selasih untuk mengendalikan lalat buah, pemanfaatan daun nimba, biji sirsak untuk pengendalian ulat daun dan minyak sereh untuk pengendalian kutu putih. Data Ditjen Hortikultura seti­dak­nya ada empat kelompok agens hayati yaitu: Pertama, kelom­pok tumbuhan insektisida naba­ti, adalah kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengen­dali hama insekta. Contoh tumbuhan dari kelompok ini adalah, piretrium, aglaia, baba­dotan, bengkuang, jaringau, sirsak, saga, srikaya dan sereh. Kedua, kelompok tumbuhan antraktan atau pemikat adalah tumbuhan yang menghasilkan suatu bahan kimia yang menye­rupai sex pheromon pada serangga betina. Bahan kimia tersebut akan menarik serangga jantan, khususnya hama lalat buah dari jenis Bactrocera dorsalis. Contoh tumbuhan dari kelompok ini adalah daun wangi dan selasih. Ketiga, kelompok tumbuh­an rodentisida nabati ada­lah kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama rodentia. Tumbuh-tumbuhan ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu sebagai penekan kelahiran (efek aborsi atau kontrasepsi) dan penekan populasi, yaitu me­ra­­cuninya. Tumbuhan yang ter­masuk kelompok penekan kelahiran umumnya mengandung steroid, sedangkan yang tergolong penekan populasi biasanya mengan­dung alkaloid. Dua jenis tumbuhan yang sering digunakan sebagai rodentisida nabati adalah jenis gadung KB dan gadung racun. Keempat, kelompok tumbuhan moluskisida adalah kelompok tum­­buh­an yang menghasilkan pes­tisida pengendali hama moluska. Beberapa tanaman menimbulkan pengaruh moluskisida, di antara­nya: daun sembung, akar tuba, patah tulang dan tefrosia (kacang babi). Agens Hayati Sementara itu pengembangan teknologi pengendalian yang menggunakan agens hayati meru­pakan hasil kajian Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tanaman Pangan dan Hortikultura. Sedangkan perbanyakan agens hayati dilakukan di klinik pengendalian hama terpadu. Beberapa jenis agens hayati tersebut adalah, Trichoderma spp., Metarrhizium sp, Pseudomonas fluorescens, Gliocladium sp. Contoh penggunaan agens hayati tersebut, Trichoderma sp., Gliocladium spp dan Pseudomonas untuk pengendalian penyakit layu fusarium pada tanaman buah dan sayuran. Beauveria basiana untuk pengendalian kutu loncat pada jeruk, Metaziriuum sp, untuk pengendalian larpa lalat buah. Pengembangan parasitoid Diadegma semiclausum untuk pengendalian Plutela xylostela pada tanaman kubis Sumber: Tabloid sinar tani
Komentar